Sepenggal Kisah Tragedi Boedoet Kelabu 1989

Ini sepenggal kisah pribadi yang terjadi 20 tahun yang lalu di awal bulan Oktober 1989 di jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Bukan bermaksud untuk menguak kembali luka lama yang telah berlalu, tapi ini hanya sebuah cermin bagi generasi-generasi berikutnya untuk lebih menghargai arti sebuah persatuan dan kesatuan diantara sesama anak bangsa.

Sebagai salah seorang siswa baru di SMA Negeri 1, saya termaksud orang yang dapat berbangga hati karena dapat diterima disebuah sekolah favorit yang isinya memang banyak dari kalangan anak-anak borju dan pejabat. Mungkin diantara ratusan murid SMA 1 hanya sayalah yang kere dan tak pernah bisa berdandan rapi. Penampilan saya lebih banyak meniru tokoh novel remaja yang ngetop saat itu, Lupus. Baju selalu dikeluarkan dengan kancing bagian atas dibiarkan terbuka. Kedua lengan baju digulung walaupun tak berotot, tas dengan tali yang panjang sampai sebatas paha, sepatu capung alias Butterfly dan tak lupa celana abu-abu yang sudah dekil karena sudah seminggu tak dicuci. Tak heran jika setiap kali akan memalalui gerbang SMA 1 saya selalu ditanya hendak kemana oleh Satpam atau Guru Piket, karena saya dikira siswa STM sebelah yang nyasar ke SMA 1.

Pada saat itu saya termaksud siswa yang aktif mengikuti beberapa ekskul, salah satunya adalah Ekskul Pramuka. Dan Ekskul Pramuka saat itu tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara Kirab dalam rangka HUT ABRI, gladi bersih dengan para tentara telah dilakukan beberapa hari yang lalu dan tinggal menunggu hari H-nya yaitu tanggal 4 Oktober 1989 malam. Hingga akhirnya angan-angan tersebut harus kami kubur dalam-dalam akibat sebuah tragedi yang tidak semua kami inginkan.

3 Oktober 1989 siang, mata pelajaran pertama dikelas I5 yang ruangannya terletak digedung paling belakang baru berjalan beberapa puluh menit. Suasana diluar kelaspun sunyi hanya beberapa siswa saja yang masih terlihat lalu lalang dengan berbagai alasan. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari arah lapangan, seluruh siswa di kelas I5 dan kelas-kelas lainnya terkejut dan berusaha mencari sumber kegaduhan tersebut. Diluar kelas terlihat beberapa siswa kelas 2 dan 3 yang beberapanya saya kenali dari Ekskul Palasi (Pencinta Alam), berlarian dan berteriak-teriak sambil memerintahkan seluruh siswa untuk keluar dari kelas dikarenakan siswa-siswa STM menyerang SMA 1. Seluruh isi kelas di SMA 1 mulai terlihat panik, Ibu Nurkaemah guru Bahasa Indonesia yang sedang mengajar di kelas I-5 langsung menutup pintu kelas dan melarang siswanya untuk keluar. Tapi beberapa siswa veteran (tidak naik kelas) mengacuhkan perintah tersebut dan meloloskan diri melalui pintu jendela. Sedangkan diluar kelas, siswa-siswa dari ruangan lain sudah berhamburan kelapangan dan berlari menuju pintu gerbang. Karena memang ruangan SMA 1 disisi sayap kiri-kanan tidak berjendela dan berpintu, hanya ada sekat tembok setinggi 1,5 meter. Maka dengan mudah mereka bisa langsung keluar kelas.


Makin lama suasana dikelas I-5 makin gaduh dan panik karena dilarang untuk keluar dari kelas. Sedangkan dilapangan telah terjadi kepanikan baru dengan berterbangan batu, genteng dan benda-benda lainnya yang dilemparkan secara beruntun dari arah gedung STM 1. Melihat situasi yang sudah tidak memungkinkan, Ibu Nurkemah membuka pintu kelas dan menasehati siswa-siswanya untuk berhati-hati. Yang wanita berteriak histeris, yang pria berlari kencang menuju pintu gerbang yang mengarah ke jalan Budi Utomo. Sambil berlari menuju pintu gerbang saya memandangi benda-benda yang jatuh kelapangan dan sisi Aula. Ternyata sekreatariat Pramuka, Palasi, Teater dan Seksi Rohani Kristen yang terletak disisi kiri Gedung SMA 1 sedang dijarah dan dihancurkan. Benda-benda didalam sekretariat menjadi alat untuk melempar menggantikan batu yang memang sulit untuk didapatkan diseputar sekolah. Tiba-tiba langkah saya terhenti, karena melihat satu benda yang saya kenali jatuh tak jauh dari tempat saya. Benda itu ternyata sebuah Piala Penghargaan yang terdapat di ruangan Ekskul Pramuka, sayang Piala itu sudah tidak bisa diselamatkan karena memang sudah patah-patah. Seketika emosi tersulut sampai ke ubun-ubun, saya percepat lari menuju pintu gerbang. Ternyata sampai dipintu gerbang, kami yang telah menyemut tak dapat terus keluar karena pintu gerbang telah dirantai lalu digembok. Kepanikanpun menjadi bertambah karena kami merasa terperangkap dan tak bisa melakukan perlawanan.

Saya dan sebagian yang lain kembali menuju ketengah lapangan karena kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba semua siswa dilapangan menunjuk-nunjuk dan melihat kesatu arah, ternyata asap hitam pekat mengepul tinggi dari ruangan ekskul. Semua siswa laki-laki berusaha mencari akal dan cara masing-masing untuk sekedar melakukan perlawanan, hanya satu orang yang saya kenali sedang terduduk lemas dan bersedih hati di emperan teras. Dia adalah Rahmat ketua ekskul Pramuka.

Saya terus berlari kearah belakang sekolah melalui lorong sebelah kanan dan kembali terhenti karena ada beberapa suara yang memanggil dari balik tembok. Ternyata ada beberapa karyawan BPS dibelakang SMA 1 sedang menengok keadaan didalam dari balik tembok setinngi 4 meter. Mereka menunjuk-nunjuk kepada suatu benda yaitu tangga, dengan tangga itulah beberapa siswi yang panik dapat menyelamatkan diri. Disinilah saya mendapatkan rejeki nomplok, sambil memegang tangga saya dengan leluasa memandangi celana dalam serta paha-paha yang mulus (Hihihihihi).

Karena sudah merasa tak nyaman dipandangi para siswi dengan mata curiga, saya bergegas kearah Kantin dibelakang sekolah untuk mencari-cari benda yang bisa dijadikan senjata. Ada botol, piring, mangkok, panci semuanya habis dibawah ketengah lapangan. Saya menemukan derijen berisi minyak dan langsung mencari botol kosong yang kemudian membuat bom molotov. Setelah tak ada yang dapat dikerjakan di areal kantin, saya menuju lantai 1 untuk kembali mencari benda-benda lainnya. Dipojok kanan atas tepatnya diatas ruangan Ekskul Makres terdapat satu pintu yang terbuka, dari pintu itu dapat melihat langsung bagian belakang STM 1 yang hanya dibataskan oleh dinding tembok. Betapa terkejutnya saya ketika melongokan kepala kebalik pintu tersebut, beberapa siswa STM berusaha memanjat tembok untuk berusaha menuju ketempat dimana saya berdiri. Karena pertemuan yang mendadak, kami sama-sama terkejut, saya tersentak beberapa langkah kebelakang, sedangkan mereka berloncatan dari atas tembok. Saya mundur untuk mencari benda yang dapat dijadikan senjata, saya mendapatkan sebuah bangku. Lalu saya raih, dan lemparkan kesiswa- siswa STM dibawah sana, mereka berhamburan menyelamatkan diri kedalam sebuah gubuk tempat tinggal. Mungkin gubuk milik penjaga sekolah atau penjaga kantin, lemparan bangku saya tadi dibalas dengan lemparan batu dan satu bom molotov sehingga mengakibatkan kusen pintu terbakar lalu cepat-cepat kami padamkan. Karena kehilangan akal untuk membalas serangan siswa-siswa STM didalam gubuk, saya meminta bantuan salah seorang rekan untuk membantu membawa sebuah meja yang saya ambil dari dalam kelas. Meja itu kami gotong melalui pintu yang sebagian menghitam karena sempat terbakar, sebagian siswa STM yang melihat saya membawa meja tahu segera menyingkir karena tahu hal yang akan saya perbuat. Secara bersamaan saya lemparkan meja itu keatas atap gubuk tersebut, "Brak...!". Suara keras merobohkan atap gubuk dan berhamburanlah beberapa siswa dan seorang satpam dari dalam gubuk. Setelah saya tunggu beberapa saat siswa-siswa STM itu tidak kembali lagi, saya segera mengamankan pintu tadi dengan mengganjalnya dengan beberapa tumpukan meja.



Benda berikutnya yang menjadi sasaran untuk senjata adalah genteng diatap sekolah, saya melompat dari lantai 1 menuju gedung lama dekat pohon besar. Satu persatu genteng saya lepas dari tempatnya dan melemparkan kearah lapangan untuk kemudian pecahan-pecahan genteng tersebut dilemparkan kearah gedung STM. Pokoknya ada istilah, DA_DE_DO kena masa bodo. Aktifitas mencopoti atap sekolah akhirnya terhenti karena kena omel oleh seorang guru. Akhirnya saya menuju lantai 3 untuk melihat lebih jelas kearah luar sekolah, ternyata tak bisa melihat terlalu jelas kearah gedung STM. Dengan inisiatif beberapa siswa, kami menyusun beberapa meja untuk bisa meraih pintu kecil diatas plafon yang menuju ke atap. Saya dan dua siswa lainnya berhasil menuju atap gedung dan mendapatkan pemandangan yang mengejutkan. Api masih menjilat ruangan ekskul, dan beberapa siswa STM bertengger diatap gedung sekolahnya. Ada yang sedang melemparkan genteng-genteng dari atap sekolahnya kearah gedung SMA 1, ada pula yang mengenakan helm sambil mengacung-acungkan badge fals sambil menghibau teman-temannya untuk menghentikan serangannya. Kamipun berinisiatif mengacungkan 2 jari tanda peace kearah rekan-rekan STM untuk segera menghentikan aksi brutal mereka.

Tak terasa haripun telah beranjak sore, mungkin karena kelelahan akhirnya tawuran itu berhenti dengan sendirinya. Setelah keadaan dianggap aman dan api telah padam (entah siapa yang memadamkannya) seluruh siswa dikumpulkan dilapangan oleh pihak sekolah. Kami semua berkumpul sambil bertanya satu sama lain tentang penyebab tragedi hari ini. Tapi tak ada penjelasan resmi dari pihak sekolah, hanya rumor-rumor yang berkembang dari mulut ke mulut. Rumor itu antara lain, terjadi gesekan antara anak Palasi dengan anak SO (Sraeli One, genk anak SMA 1). Entah pihak mana yang meminta bantuan ke teman-temannya di STM, sehingga akhirnya berbuntut panjang dan menjadi sebuah tragedi. Akhirnya pihak sekolah mengumumkan bahwa seluruh siswa diliburkan selama 3 hari, anak-anak SMA 1 saling berbisik untuk melakukan pembalasan pada saat masuk nanti. Setelah keadaan dianggap aman, pihak sekolah membubarkan aktifitas sekolah. Kami berpikir diluar sekolah akan terjadi bentrokan susulan, tapi bertapa terkejutnya kami ketika memandang kearah jalan Budi Utomo dari balik pintu gerbang SMA 1. Diluar bagaikan medan perang yang sesungguhnya, pasukan loreng dari Kostrad, Garnisun, Kodim dan Kepolisian bertebaran dimana-mana. Didepan gerbang sekolah telah dipagar betis kiri-kanan oleh para tentara, sedangkan antara SMA & STM diblokir dengan mobil-mobil aparat keamanan.



Kami diharuskan berbaris dua-dua untuk dapat melewati pagar betis tersebut, mata para tentara itu memandangi kami satu persatu dengan sorot mata yang tajam dan agak sedikit bengis. Hingga akhirnya salah satu tentara menunjuk-nunjuk kearah saya. jantung terasa mau copot saat itu. Mungkin karena saya memakai ikat kepala dari sehelai sapu tangan. Cepat-cepat saya lepaskan ikat kepala tersebut dan memasukannya kedalam saku celana. "Gawat!", ternyata disaku celana saya terdapat sebuah curter yang saya temukan di Lantai 1 tadi. Akhirnya saya lolos dari pagar betis itu dan secara diam-diam membuang curter tersebut dikali Gunung Sahari. Di halte Gunung Sahari sudah padat dengan siswa-siswa SMA 1 yang sedang menunggu angkutan umum. Tak lama kemudian satu bis penuh pelajar menuju kearah kami, kami semua segera mempersiapkan diri untuk terjadinya sebuah bentrokan. Tapi ketika bis memperlambat lajunya, beberapa siswa dipintu depan turun dan saling berangkulan dengan anak-anak SMA 1. Ternyata bis itu berisi rombongan anak Chaptoen (SMA 10) yang selama ini menjadi salah satu musuh besar Boedoet, tapi kini tiba-tiba datang sebagai saudara yang hendak membantu.

Inilah salah satu contoh kecil yang dapat kita semua ambil hikmahnya, bahwa disetiap konflik yang terjadi dibelahan dunia manapun pasti akan ada pihak-pihak yang merasa diuntungkan dan berusaha memperkeruh supaya konflik itu tetap abadi. Dapat kita semua bayangkan jika konflik antara SMA 1 & STM terus berkepanjangan, maka jalan Budi Utomo tak jauh bedanya dengan daerah Gambir. Dimana saat itu terdapat sekolah yang saling bertetanggaan yaitu SMA 7 dan SMA 4, hampir setiap hari selalu terjadi tawuran yang melibatkan kedua siswa sekolah tersebut. Tapi yang mengherankan adalah walaupun SMA 7 & SMA 4 saling bermusuhan, mereka akan bergabung bersama-sama jika mengetahui bis 806 yang berisi anak-anak Boedoet akan melalui didepan jalan Batu.

Tiga hari pasca bentrokan beberapa hari yang lalu, masyarakat ibu kota masih hangat membahas aksi brutal anak-anak Budi Utomo termaksud beberapa surat khabar terbitan ibu kota. Sehingga timbul wacana untuk memisahkan sekolah-sekolah di jalan Budi Utomo dengan cara memindahkannya. Dari kawasan jalan Bungur Besar saya berangkat sekolah dengan menggunakan celana SMP, hal itu dikarenakan kedua orang tua saya masih khawatir jika mengenakan celana abu-abu. Tiba di perempatan jalan Gunung Sahari 3 saya dikejutkan oleh aksi sweaping yang dilakukan oleh anak-anak SMA 1. Dan saya sempat menyaksikan satu orang siswa mengerang kesakitan diatas trotoar sambil diberi minum oleh masyarakat sekitarnya, mungkin akibat sweaping itu. Suasana mulai terasa mencekam ketika saya sudah berada didepan SMP 93, kerumunan siswa dan para alumni SMA 1 ada dimana-mana. Ada Rumor Chaptoen, Poncol dan SMA 20 ikut dalam kerumunan itu, benar tidaknya rumor tersebut sayapun tidak tahu.

Kerumunan siswa dan alumni SMA 1 dimuka jalan Budi Utomo sudah menyemut, laju mereka terhambat oleh barikade satuan keamanan. Dan untuk memecah kosentrasi massa, aparat keamanan beberapa kali melepaskan tembakan peringatan ke udara. Bukan membubarkan diri tapi setiap letusan senjata api selalu mendapatkan tepuk tangan meriah dari kerumunan massa itu. Di perempatan Armabar terdapat pula kerumunan massa dari anak-anak STM, tapi mereka tidak melakukan penyerangan hanya berkumpul diatas jembatan sambil menunggu perkembangan selanjutnya. Akhirnya aparat keamanan berinisiatif menghentikan setiap angkutan umum yang lewat dan menghalau siswa-siswa yang berkerumun dipinggir jalan untuk masuk kedalamnya. Sayapun ikut dengan PPD No. 14 jurusan Blok M, berharap di Senen atau Kramat Raya akan ada bentrokan. Ternyata sepanjang perjalanan sampai dengan Parkir Timur Senayam, adem ayem. Akhirnya saya dan beberapa siswa turun di Parkir Timur, menghindari daerah Blok M. Apalagi jika bukan untuk menghindari bertemu dengan anak-anak Penerbangan. Suasana di Parkir Timur cukup ramai dengan umat kristiani, karena memang hari itu bertepatan dengan kedatangan Paus Paulus Yohaness II ke Indonesia.

Setelah kembali diliburkan selama satu minggu, aktifitas belajar kembali normal seperti sedia kala. Anak-anak SMA dan STM sama-sama menghindar untuk bertemu muka, anak STM menghindar melalui jalan Gunung Sahari dan anak SMA pun menghindar untuk melalui Lapangan Banteng. Tapi suasana berbeda terjadi di dalam gedung SMA 1, ada kesibukan dan kasak-kusuk dari beberapa siswa kelas 3. Mereka sibuk membawa-bawa selembar kertas untuk mengumpulkan tanda tangan dari para siswa sebagai dukungan kepada rekan-rekan mereka yang akan di keluarkan akibat terlibat sebagai dalang dalam Tragedi beberapa hari yang lalu. Ketika bel tanda masuk berbunyi, kami semua termaksud anak-anak STM mendapatkan selembar surat penyataan yang ditanda-tangani oleh para ketua Osis dan Kepala sekolah. Yang intinya mengutuk dan menyesali tragedi kemarin itu. Beberapa hari kemudian siswa SMA & STM kembali terlibat bentrokan di jalan Gunung Sahari tapi menghadapi musuh bersama yaitu Chaptoen.

Thanks for All
Sumber Photo: Dari berbagai Grup Boedoet di Facebook

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews